
Yuyun Maemunah mengenakan baju adat suku Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). Ia aktif berkegiatan dan berprestasi di sekolahnya.
Unesa.ac.id. SURABAYA—Yuyun Maemunah merupakan calon mahasiswa baru termuda Universitas Negeri Surabaya (Unesa) jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2025. Ia diterima di kampus bemoto ‘Growing with Character’ pada usia 15 tahun, 5 bulan, 29 hari (per 5 April).
Perempuan kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada 7 Oktober 2009 itu berhasil tembus prodi S-1 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Unesa.
“Awalnya, saya gak nyangka bisa diterima di Unesa. Saat cek pengumuman sama teman-teman rasanya campur aduk dan alhamdulillah lolos,” ujar lulusan SMAS Kae Woha itu.
Anak tunggal dari pasangan Najamuddin dan Sarinah itu sempat merasa ragu untuk merantau ke Kota Pahlawan. Namun, dukungan orang tua meyakinkannya bahwa keputusan merantau adalah bagian dari perjuangan.
“Awalnya ragu karena tidak mengenal orang daerah saya di Surabaya. Tapi orang tua meyakinkan bahwa saya harus ke sana untuk belajar. Hal tersebut membuat saya lebih tenang dan percaya diri,” ungkapnya.
Yusun menceritakan perjalanannya bisa menjadi camaba termuda Unesa. Hal itu tidak lepas dari awal masuk sekolah dasar yang terbilang cepat. Ia masuk sekolah pada usia lima tahun.
Kendati terlalu cepat, Yuyun menunjukkan semangat belajar yang tinggi. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, selalu mendapatkan peringkat di kelasnya. Ia terus berprestasi hingga di tingkat sekolah menengah atas.
Ia mengakui bahwa pencapaian tersebut bukanlah sesuatu yang instan, melainkan hasil dari didikan orang tua, disiplin belajar, dan konsistensi.
“Sejak kecil, saya sudah terbiasa belajar secara teratur. Saya selalu berusaha memahami setiap pelajaran dengan baik, bukan hanya menghafal, tetapi juga memahami konsepnya,” ujarnya.
Untuk menjaga prestasinya, Yuyun menerapkan berbagai strategi belajar. Pertama, menjaga motivasi dengan menetapkan tujuan yang jelas dan menentukan target masa depan.
Kedua, ia memanfaatkan waktu secara efektif dengan mengatur jadwal belajar yang teratur, menentukan prioritas tugas, serta menghindari kebiasaan menunda belajar dan mengerjakan tugas.
Ketiga, ia menerapkan metode belajar aktif dengan selalu bertanya di kelas, berdiskusi dengan teman, serta mengerjakan tugas tambahan guna memperdalam pemahaman materi.
“Orang tua saya selalu menanamkan nilai bahwa pendidikan adalah bekal untuk masa depan. Mereka mendukung saya dalam segala hal, baik dalam belajar maupun dalam mempersiapkan diri untuk kuliah,” imbuhnya.
Ia membeberkan alasannya memilih Prodi PPKn di Unesa. Baginya, pendidikan kewarganegaraan memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda yang berwawasan kebangsaan dan menjunjung nilai-nilai demokrasi.
“Saya ingin menjadi guru PPKn, karena saya ingin ikut serta dalam mencetak generasi yang memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara,” tuturnya.[*]
***
Reporter: Mochammad Ja’far Sodiq (FIP)
Editor: @zam*
Foto: Yuyun Maemunah
Share It On: